Diseminasi Konsep Budaya Positif Di Sekolah
Pratiwi Handayani
CGP Angkatan 11
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh
Salam Guru Penggerak
Kesempatan kali ini saya akan menyampaikan aksi nyata modul 1.4 Budaya Positif di sekolah.
Materi Yang di paparkan yaitu tentang konsep-konsep penting dalam mewujudkan
Budaya positif.
Pendahuluan
Untuk Untuk menciptakan Budaya Positif di sekolah dapat dilakukan dengan menerapkan konsep-konsep berikut ini :
Perubahan paradigma belajar
Disiplin positif,
Motivasi perilaku manusia,
Kebutuhan dasar Manusia,
Posisi kontrol restitusi,
Keyakinan kelas
Segitiga restitusi
Perubahan Paradigma belajar
Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan berapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’.
Ilusi guru mengontrol murid.
Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat.
Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter.
Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa
Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol? Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991) mengatakan bahwa,
“..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia, bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”.
Disiplin
Disiplin dikaitkan dengan kata tertib, teratur, dan patuh terhadap peraturan
Disiplin merupakan hal/sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan.
Disiplin dihubungkan dengan hukuman dan ketidak nyamanan, seolah olah disiplin dapat diterapkan karena adanya hukuman yang menyebabkan ketidaknyamanan.
Menurut Ki Hajar Dewantara :
“ dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ‘self discipline’ yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.
(Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)
Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat.
Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal.
Diane Gossen dalam bukunyaRestructuring School Discipline, 2001. Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut.
Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik
Seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal
Maka makna disiplin positif yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara maupun Diane Gossen adalah disiplin sebagai bentuk kontrol diri, yaitu belajar untuk kontrol diri agar dapat mencapai suatu tujuan mulia yang mengacu pada nilai-nilai atau prinsip-prinsip mulia yang dianut seseorang.
Nilai-nilai atau prinsip yang mulia tersebut merupakan nilai-nilai kebajikan (virtues) yang universal.
Motivasi Prilaku manusia
Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia:
Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilainilai yang mereka percaya.
Hukuman
Hukuman merupakan tindakan yang diterima oleh seseorang karena tidak memenuhi/bertentangan dengan syarat/ketentuan tertentu
Hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan.
Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya.
Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata.
Konsekuensi
Konsekuensi merupakan tindakan yang diterima seseorang karena tidak memenuhi/bertentangan dengan ketentuan yang telah disepakati
Konsekuensi bersifat sudah terencana atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru.
Umumnya bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima bila ada pelanggaran.
Pada konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek
Penghargaan
Penghargaan merupakan pengakuan atas tindakan yang telah dilakukan yang sesuai dengan syarat-syarat tertentu
Penghargaan dapat berupa hadiah/benda/uang atau pengakuan/penghormatan
Penghargaan juga dapat digunakan untuk mengontrol prilaku seseorang
Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995)
Berdasarkan pengamatannya mengemukakan bahwa tindakan memberikan penghargaan sama nilainya dengan menghukum seseorang
Penghargaan Tidak Efektif.
Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Penghargaan Merusak Hubungan
Penghargaan Mengurangi Ketepatan
Penghargaan Menurunkan Kualitas
Penghargaan Mematikan Kreativitas
Restitusi
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka
Sehingga murid bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004).
Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen,1996)
Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah.
Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai
Kebutuhan daasar manusia
Bertahan Hidup (makan, minum)
Kasih sayang dan rasa diterima (berteman, berkeluarga)
Penguasaan ( diakui prestasinya)
Kebebasan (memiliki pilihan, otonomi)
Kesenangan (bermain, tertawa
5 posisi kontrol guru
sebagai penghukum : Menghasilkan murid yang memberontak, Pendendam dan suka menyalahkan orang lain Dampaknya murid akan mengulangi kesalahan berulang kali dan prilakunya menjadi agresif
sebagai pembuat merasa bersalah : Menghasilkan murid yang suka menyembunyikan, menyangkal dan berbohong.Dampaknya murid akan rendah diri merasa gagal dan tidak berharga
sebagai teman : Menghasilkan murid yang ketergantungan. Dampaknya murid akan akan ketergantungan, tidak mandiri dan tidak bisa memutuskan sendiri
sebagai pemantau: Menghasilkan murid yang menyesuaikan bila diawasi. Dampaknya murid menitikberatkan akibat/resiko yang terjadi pada diri sendiri, ,murid berfikir akan mendapatkan hadiah atau hukuman
sebagai manager : Menghasilkan murid yang dapat menguatkan watak/karakter diri. Dampaknya murid akan mampu mengevaluasi diri bagaimana menjadi lebih baik
Keyakinan Kelas
‘Keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati secara tersirat dan tersurat, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama.
Nilai-nilai Kebajikan akan membuat murid memiliki keyakinan untuk lebih memotivasi diri sendiri dari dalam
Guru berperan dalam mewujukan terbentukanya keyakinan sekolah/kelas melalui kesepakatan antara guru dan murid.
Keyakinan sekolah/kelas merupakan pernyataan universal yang mudah diingat dan dipahami dan harus direrapkan dalam lingkungan sekolah.
Nilai Nilai kebajikan
Profil Pelajar Pancasila
Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia.
Mandiri
Bernalar Kritis
Berkebinekaan Global
Bergotong royong
Kreatif
Segitiga Restitusi
Segitiga restitusi merupakan pendekatan yang dilakukan guru yang memiliki posisi kontrol sebagai manager dalam mewujudkan disiplin positif
Dalam menerapkan segitiga restitusi guru mengajak murid berdiskusi sehingga murid mampu bertanggung jawab dan mandiri dalam mencari solusi atas permasalahnya



